Translate

Selasa, 20 Mei 2014

Cerita rakyat yang hendak saya sharing berasal dari Jambi dengan judul Legenda Dongeng Putri Cermin Cina dari Batanghari. Menurut sumber yang saya dapatkan disini, konon cerita rakyat tersebut benar-benar ada. Tapi, namanya juga legenda dongeng, entah bisa dibenarkan atau tidak keberadaannya. Sudahlah, baca saja cerita berikut.

***

Konon menurut cerita yang berkembang hingga sekarang, dahulu di daerah Jambi ada kerajaan yang diperintah oleh seorang raja bernama Sultan MAMBANG MATAHARI. Sultan Mambang Matahari mempunyai seorang anak laki-laki bernama Tuan MUDA SELAT dan seorang perempuan yang bernama Putri CERMIN CINA. Putra sang prabu yang laki-laki adalah bertampang bagus sekali tetapi sifatnya agak ceroboh. Sedangkan yang perempuan juga cantik sekali. Kulitnya putih bagaikan kulit seorang cina. Karena itu putri sang raja ini disebut Putri Cermin Cina.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar terkenal bernama Tuan Muda SENANING. Ia bersama anak buahnya merapat ke daerah itu untuk kepentingan berdagang. Itulah sebabnya kedatangan Tuan Muda Senaning disambut baik oleh sang prabu Mambang Matahari.

Di saat Tuan Muda Senaning memperoleh jamuan makan di ruang pertemuan balairung kerajaan, putri Cermin Cina sempat bertemu dengan Tuan Muda Senaning. Seketika itu juga Tuan Muda Senaning jatuh cinta kepada Putri Cermin Cina. Kebetulan sekali cinta Tuan Muda Senaning ini dapat diterima dengan baik oleh Putri Cermin Cina. Dengan kata lain mereka berdua tidak bertepuk sebelah tangan.

“Adinda Putri ..... sejak aku bertemu pertama kali denganmu hatiku selalu berdebar-debar. Aku tidak dapat menipu diriku sendiri. Kaulah yang kelak bakal kuminta mendampingi hidupku” kata Tuan Muda Senaning ketika keduanya saling bertemu.

“Jika memang Kanda Tuan Muda Senaning benar-benar mencintaiku, sebaiknya segeralah tanyakan kepada ayahanda.” jawab sang Putri Cermin Cina tampak malu-malu tapi mau.

“Tetapi adakah Dinda juga mencintaiku?”

“Hal ini tidak usah Kanda tanyakan kepadaku. Tanyalah kepada diri sendiri. Nanti Kanda pasti bakal menemukan jawabnya.”

Atas jawaban Putri Cermin Cina seperti itu tidak lama berikutnya Tuan Muda Senaning segera menghadap Sang Prabu Mambang Matahari untuk melamar Putri Cermin Cina. Ternyata dengan senang hati sang prabu Mambang Matahari menerima lamaran Tuan Muda Senaning.

Karena lamarannya diterima Tuan Muda Senaning segera merancang roda kehidupan ke depan berikutnya. Tetapi meskipun ia seorang saudagar yang kaya raya, ia tidak berani berlaku gegabah di hadapan calon mertuanya yang seorang prabu di negeri itu. Dalam segala hal ia selalu berhati-hati.

Sementara itu sang prabu Mambang Matahari juga tidak mau terlalu gegabah. Beliau harus mampu menghargai dirinya sendiri sebagai seorang prabu.

Pada suatu hari sang prabu Mambang Matahari pergi berlayar untuk suatu kepentingan. Sebelum berangkat beliau berpesan kepada putra laki-lakinya yang bernama Tuan Muda Selat supaya berhati-hati menjaga adiknya jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Setelah sang prabu Mambang Matahari pergi berlayar. Tuan Muda Selat selalu mengajak bermain bersama-sama Tuan Muda Senaning calon iparnya. Bermacam-macam jenis permainan yang dilakukan. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah gasing.

Pada suatu hari Tuan Muda Selat sedang asyik bermain gasing dengan Tuan Muda Senaning. Karena asyiknya bermain keduanya hingga sering terlibat tertawa terbahak-bahak yang berkepanjangan. Lebih-lebih lagi sang Tuan Muda Selat. Ia lebih banyak lepas kontrol di saat tertawa terbahak-bahak kegirangan itu.

Mendengar tertawa yang terbahak-bahak, yang dilakukan oleh Tuan Muda Selat itu Putri Cermin Cina yang sedang berada di dalam istana pun tersentak juga. Demi mendengar suara yang terbahak-bahak itu Putri Cermin Cina melongokkan kepalanya ke luar beranda istana. Ingin mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sementara itu di saat yang sama Tuan Muda Senaning melempar gasingnya ditujukan ke gasing Tuan Muda Selat yang sudah terlempar sebelumnya. Memang mereka berdua sedang bermain bersuka ria mengadu gasing masing-masing.

Celakanya ketika keduanya masih terdengar kegirangan, gasing Tuan Muda Selat yang melambung tinggi bergerak ke arah beranda istana tempat Putri Cermin Cina berada. Dan apa yang terjadi membuat semua orang yang melihatnya terkesima. Hal ini gara-gara gasing yang melayang tersebut jatuh persis di ubun-ubun Putri Cermin Cina. Seketika itu juga Putri Cermin Cina jatuh terkapar kesakitan.

Melihat kejadian yang tidak diduga sebelumya itu kedua Tuan Muda yang sedang asyik bermain gasing segera lari ke arah Putri Cermin Cina jatuh terkapar berlumuran darah. Tuan Muda Selat dan Tuan Muda Senaning semakin tersentak setelah menyaksikan bahwa Putri Cermin Cina sudah tak sadarkan diri. Ringkas cerita Putri Cermin Cina yang cantik jelita itu menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Tuan Muda Senaning disaksikan oleh Tuan Muda Selat.

Setelah Tuan Muda Senaning yakin bahwa gadis yang dicntainya meninggal dunia, ia segera beranjak dari tempatnya. Serta merta menggapai sebuah tombak. Dalam waktu sesaat tombak itu ditusukkan ke arah perutnya sendiri.

“Aku menyusulmu Dinda! Aku tak mampu hidup sendiri di dunia!” teriaknya kemudian roboh tak bernyawa.

Menyaksikan kenyataan seperti itu Tuan Muda Selat semakin kebinggungan. Ia sudah menerka tentu sang baginda akan marah besar. Hal ini terjadi di luar sepengetahuannya. Padahal sebelum sang prabu berangkat berlayar, dialah yang diserahi menjaga adiknya, Putri Cermin Cina.

Karena binggungnya, yang dilakukan oleh Tuan Muda Selat hanya berteriak-teriak minta tolong. Dan setelah beberapa kerabat kerajaan dan tetangga berdatangan, mereka segera mengurus penguburan kedua remaja yang sudah saling jatuh cinta yang belum sempat menikah itu.

Suasana tampak semakin haru ketika penguburan hendak dilakukan dan sang prabu Mambang Matahari datang dari berlayar. Sudah barang tentu kemarahan sang prabu tak dapat terbayangkan.

Karena marahnya lalu sang prabu bersabda. Tempat di mana terjadi peristiwa saat Tuan Muda Senaning dan Tuan Muda Selat bermain gasing itu dikutuk.

“Kamu yang bersalah Selat. Oleh karena itu tempat kamu bermain gasingan ini saya sebut sebagai Kampung Selat.”

Untuk melupakan kejadian yang sangat menyedihkan itu setelah Tuan Muda Senaning dan Putri cermin Cina dikubur, sang prabu segera pergi meninggalkan tempat. Yang berarti istananya pun ditinggalkan pula. Beliau membangun di tempat yang baru. Yang diberi nama Kampung Tengah Lubuk Ruso, yaitu kampung yang terletak di antara kampung Selat dengan kampung yang tempat kapalnya berlabuh saat sang prabu datang dari berlayar. Hingga kini cerita tersebut masih diyakini sebagai legenda yang dulu benar-benar terjadi. Apalagi setelah nama-nama kampung tersebut dikaitkan dengan nama-nama kampung yang sekarang ada di Kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi.

***

Demikianlah, cerita rakyat berjudul Legenda Dongeng Putri Cermin Cina dari Batanghari, Jambi. Semoga bermanfaat.

Senin, 28 April 2014

cerita hari ini

Dongeng dari Cina.

Di sebuah daerah di tiongkok hiduplah seorang pemuda bernama Jhi Ge Phu bersama ayahnya yang sudah renta. Mereka adalah ahli tembikar dan mereka hidup dari hasil menjual tembikar buatannya.

Suatu hari di musim salju, Jhi Ge Phu dan ayahnya menuntun keledai mereka ke kota. Keledai mereka yang sudah tua terseok-seok membawa muatan tembikar yang akan mereka jual di kota. Jalanan sangat licin karena tertutup salju. Ayah Jhi Ge Phu khawatir keledai mereka akan terpeleset dan menjatuhkan tembikar-tembikar di punggungnya.

Saat melewati Yuin Nan, mereka harus menyebrangi sebuah sungai yang sudah membeku. Di tengah sungai keledai mereka terpeleset dan jatuh, membuat semua tembikar mereka pecah berkeping-keping. Ayah Jhi Ge Phu yang hendak membatu keledainya malah terpeleset juga. Malang baginya, kepalanya terantuk batu dengan sangat keras sehingga ia pun meninggal.

Jhi Ge Phu sangat sedih. Namun apa mau dikata, semua sudah suratan takdir. Maka dia pun menguburkan jenazah ayahnya di tepi sungai dan juga menguburkan keledainya di samping kuburan ayahnya. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya.

Suatu hari dia tiba di pinggir laut. Saat dia sedang merenungi nasibnya, dia dikejutkan oleh suara rebut dan tangisan seorang gadis. Dilihatnya segerombolan pemuda berkuda berlari menuju ke arahnya. Salah seorang diantaranya membawa seorang gadis yang sedang meronta-ronta dan menangis. Jhi Ge Phu merasa yakin bahwa gadis itu pasti telah dibawa paksa oleh mereka. Maka segera dia menghadang mereka. Pemuda yang membawa gadis itu sangat marah, dia mengeluarkan cambuk dan melecutkannya ke arah Jhi Ge Phu. Untungnya Jhi Ge Phu sempat menghindar. Ia mencabut pedangnya dan menebas kaki depan kuda pemuda itu sehingga mereka jatuh tersungkur. Tanpa membuang waktu Jhi Ge Phu menyerang si pemuda yang kewalahan melawannya. Akhirnya gerombolan pemuda itu pun melarikan diri.

Gadis itu sangat berterima kasih dan mengenalkan dirinya sebagai putri Naga.
“Dimana rumahmu Nona, bagaimana kau bisa dibawa oleh pemuda berandalan itu?” tanya Jhi Ge Phu.
“Rumahku ada di dasar laut. Kebetulan tadi pagi aku ingin menikmati fajar di daratan. Lalu saat aku lengah, tiba-tiba mereka datang menculikku,” katanya.
“Wahai pemuda, kau telah menolongku. Sekarang kau ikutlah denganku untuk menemui orang tuaku. Mereka akan sangat senang bertemu denganmu,” pinta putri Naga.

Jhi Ge Phu sangat penasaran sehingga dia menyetujui ajakan putri Naga. Putri tersebut menyuruhnya memejamkan mata. Sedetik kemudian saat putri Naga menyuruhnya membuka mata, Jhi Ge Phu terpesona dengan pemandangan di depannya.

Dia kini berada di sebuah istana yang sangat megah dan indah. Di hadapannya berdiri dua makhluk yang seperti manusia tapi juga seperti naga, dikelilingi para pelayan dengan bentuk seperti ikan. Kedua naga itu memperkenalkan diri sebagai orang tua gadis yang ditolongnya. Mereka sangat berterima kasih atas pertolongan Jhi Ge Phu. Mereka menjamunya dengan berbagai hidangan yang lezat. Kemudia raja membawa Jhi Ge Phu ke sebuah ruangan yang dipenuhi emas dan permata.
“Sebagai tanda terima kasihku, kau boleh membawa emas permata ini sesukamu, pilihlah!” kata raja.

Jhi Ge Phu dengan halus menolaknya, dia katakan bahwa dia tidak menginginkan imbalan. Namun karena raja terus memaksanya, akhirnya dia meminta seekor anak ayam dan sebuah tongkat. Raja sangat terkejut dengan permintaan tersebut karena kedua benda itu adalah pusaka kerajaan yang orang luar tidak mengetahuinya.
“Anak muda dari mana kau tahu benda-benda pusaka itu?” tanya raja.
“Maaf paduka, tuan putrilah yang memberitahuku,” kata Jhi Ge Phu.

Raja dan ratu segera memahami bahwa anak mereka telah jatuh hati pada pemuda itu. Maka dengan berat hati mereka merelakan pusaka tersebut ke tangan Jhi Ge Phu. Setelah itu mereka mengantar Jhi Ge Phu ke permukaan dengan selamat. Jhi Ge Phu sebenarnya ingin berpamitan dengan putri naga namun sepertinya putri naga tidak mau menampakan diri.

Jhi Ge Phu lalu melanjutkan perjalanannya meski dia tidak tahu harus kemana. Berhari-hari dia berjalan tanpa makan dan minum, akhirnya dia pun pingsan kelelahan.
Saat membuka matanya, ternyata dia tidak berada di tanah tempat ia pingsan, namun di sebuah tempat tidur yang besar dan indah. Di hadapannya telah terhidang makanan dan minuman yang lezat. Karena lapar, Jhi Ge Phu menghabiskan hidangan itu dengan lahap.

“Rumah siapa ini,” tanya Jhi Ge Phu dalam hati.

Dia kemudian berkeliling di dalam rumah itu untuk mencari tahu pemiliknya. Anehnya tidak ada seorang pun di dalam rumah itu. Dia menemukan namanya tertempel di salah satu pintu rumah tersebut.
“Mungkin ada orang baik yang meminjamkan rumah ini untukku,” pikirnya. “Aku tidak boleh berdiam diri saja, aku harus bekerja keras!.”

Jhi Ge Phu memutuskan untuk berladang, maka dia segera membabat hutan dan menanaminya dengan sayuran dan buah-buahan.

Dia berangkat ke ladang segera setelah matahari menampakkan diri dan baru pulang saat matahari akan kembali ke peraduannya.

Setiap kali dia bangun tidur dan pulang kerja, Jhi Ge Phu selalu mendapati meja makannya telah dipenuhi hidangan. Demikian pula rumah yang ditinggalinya selalu rapi dan bersih. Padahal Jhi Ge Phu tidak pernah bertemu dengan orang lain di rumah itu.

Karena penasaran, Jhi Ge Phu memutuskan untuk mencari tahu jawabannya. Suatu hari seperti biasa, pagi-pagi dia berpura-pura pergi ke ladang. Padahal dia bersembunyi dan mengintip.

Tiba-tiba anak ayam yang dibawanya dari istana naga mengeluarkan asap dan BUZZ!! Anak ayam itu menghilang dan berdirilah seorang putri yang sangat cantik. Kini tahulah Jhi Ge Phu bahwa selama ini putri Naga selalu bersamanya. Jhi Ge Phu sangat gembira, dia pun menghampiri putri Naga yang tidak bisa berpura-pura lagi. Mereka memutuskan untuk menikah dan bekerja di ladang bersama-sama.

Suatu hari lewatlah seorang raja dan para pengikutnya. Mereka hendak pergi berburu. Raja sangat terpesona melihat keindahan rumah Jhi Ge Phu dan memutuskan untuk singgah. Raja semakin terpesona melihat bahwa Jhi Ge Phu memiliki istri yang sangat cantik. Timbul niat jahatnya untuk menjadikan putri Naga sebagai istrinya.

Maka ditantangnya Jhi Ge Phu untuk bertanding. Raja memutuskan untuk bertanding membabat hutan selama tiga hari. Jika Jhi Ge Phu berhasil, raja akan memberinya hadiah, namu jika gagal, maka Jhi Ge Phu harus menyerahkan istrinya kepada raja.

Jhi Ge Phu sangat sedih karena yakin tidak akan mampu memenuhi tantangan tersebut. Namun putri naga menyarankan untuk meminta tolong pada raja naga.
“Pintalah kapak rembulan pada ayahku!” katanya.

Dengan kapak rembulan di tangannya, Jhi Ge Phu dengan berani berdiri menentang raja. Dia memilih hutan di sebelah timur, sementara raja hutan di sebelah barat. Dengan sekuat tenaga Jhi Ge Phu melemparkan kapak rembulannya ke atas dan BLARR! Seberkas cahaya memancar dan dengan sekejap mata hutan di sebelah timur telah habis terbabat.

Raja sangat marah dan tidak mau mengakui kekalahannya. Dia menantang Jhi Ge Phu untuk menuai padi keesokan harinya. Sekali lagi Jhi Ge Phu meminta pertolongan raja naga yang lalu memberinya sebuah kotak emas berkepala merak.

Esoknya, puluhan pekerja raja bekerja keras menuai padi di ladang sebelah selatan. Jhi Ge Phu segera membuka kotak emasnya. Seberkas cahaya menyilaukan terpancar dari dalamnya dan lalu segera berubah menjadi jutaan ekor burung pemakan padi. Mereka mematuki padi di ladang sebelah utara sehingga dalam sekejap padi-padi itu habis. Raja sangat marah dengan kekalahannya. Dengan geram dia memerintahkan para prajuritnya untuk membawa putri naga dengan paksa.

Jhi Ge Phu berusaha melawan namun saying prajurit raja terlalu banyak sehingga ia kewalahan. Didengarnya putri naga berteriak-teriak ketika para prajurit membawanya.
“Ge Phu, Mantel Bulu Merak! Syair keberuntungan!” teriak putri.

Jhi Ge Phu dengan sedih melihat istri yang dicintainya dibawa pergi. Berhari-hari dia memikirkan arti ucapan istrinya. Tiba-tiba pikirannya terbuka dan dia mengerti bahwa dia harus membuat mantel dari bulu merak dan membawanya ke istana.

Dia segera mengumpulkan bulu merak. Setiap malam di bawah cahaya rembulan dia menyusun bulu-bulu merak dan merangkai syair keberuntungan. Lalu pada malam ke 49 selesailah sudah mantel bulu merak dan syairnya.

Dengan memakai mantel bulu merak tersebut, Jhi Ge Phu berangkat ke istana. Malam itu adalah malam tahun baru Lunar. Masyarakat kota sedang berpesta. Istana dihiasi lentera dan lampion. Kemeriahan pesta begitu terasa saat Jhi Ge Phu berdiri di pintu gerbang istana. Dia lalu menyanyikan syair keberuntungannya dengan lantang. Pakaiannya yang tidak biasa, menarik perhatian banyak orang. Mereka beramai-ramai menonton Jhi Ge Phu.

Raja yang tidak tahu bahwa orang tersebut adalah Jhi Ge Phu segera memerintahkan untuk membawanya ke dalam istana. Putri Naga segera tahu bahwa suaminya telah datang begitu mendengarnya menyanyikan syair keberuntungan. Dia bergegas masuk ke aula tempat Jhi Ge Phu berada dan dengan ceria menebarkan senyum padanya.

Raja gembira melihat putri berubah ceria. Pikirnya jika ia juga memakai mantel bulu merak, putri akan senang padanya. Tanpa pikir panjang raja merebut mantel itu dan memakainya.

Tapi putri naga menunjukan tampang tidak suka, katanya “sungguh tidak pantas seorang raja berpakaian seperti itu. Sangat tidak sopan. Ini akan membuat sial pada kerajaan. Raja seperti ini harusnya dikurung saja.”

Kata-kata sang putri menimbulkan keributan di istana. Beberapa prajurit dan pejabat berusaha menangkap raja dan sebagian lain melindunginya. Kesempatan ini dipakai oleh Jhi Ge Phu dan putri naga untuk melarikan diri. Mereka berlari kea rah laut. Di sana para prajurit istana naga telah menunggunya dan membawanya kembali ke istana naga. Di sanalah mereka hidup bahagia selamanya.

(SELESAI)